Lampu Pijar

gelap-cahaya-terang

  • Hei, selamat datang, sugeng rawuh, welcome di blog saya. Di sini tempat corat-coret saya. Itung-itung turut mengurangi pemakaian kertas dan menjaga lingkungan :). Let's go green and enjoy reading.

Anugrah Terindah [part 6]

Posted by Arif Sofi On Jumat, Juli 06, 2012 0 comments


Selesai melaksanakan sholat Maghrib aku bersiap-siap untuk pergi menemuinya. Apapun jawaban yang dia berikan nanti, Insyaalloh adalah yang terbaik bagiku kedepannya, aku mencoba untuk tetap huznudhonbillah.
Begitu sampai di SS, aku langsung memilih tempat. Malam ini sepertinya tempat ini cukup sepi, tidak seperti biasanya yang sarat akan pengunjung. Tiba-tiba HP ku bergetar. Ternyata pesan darinya.
Meja nomor brp mas?
Akupun kemudian membalas SMS tersebut. Meja nomor 14.
Aku melihat dia bersama adiknya. Kemudian aku melambaikan tangan. Dia tersenyum kemudian berjalan kearahku sambil memasukkan Handphone-nya ke dalam tas kecil yang dia bawa. Aku amati sekilas, dia ternyata tidak banyak berubah, masih seperti dulu, masih dengan gayanya yang sederhana. Dia mengenakan baju dengan motif bunga-bunga dan jilbab berwarna merah muda. Dandanannya wajar, bahkan bisa dibilang sangat sederhana. Simple tapi menawan. Raut wajahnya menggambarkan keceriaan. Dan senyumnya masih sama, senyum yang menentramkan. Itulah yang membuatku jatuh hati padanya, pada seorang Tiara Zaskia.
“Assalamualaikum Mas.”
“Waalaikumussalam.”
Akhirnya kami mengobrol, menanyakan keadaan satu sama lain setelah 2 tahun tidak berjumpa. Kemudian Tiara angkat bicara tentang inti yang menjadi alasan kenapa kami saat ini berada disini.
“Emm…Mas, kalau boleh tau kenapa kok Mas lebih memilih aku. Padahal diluar sana masih banyak loh perempuan yang lebih cantik. Aku ini orangnya, yah..beginilah Mas, biasa-biasa aja?”
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Semua laki-laki pasti akan senang melihat wanita yang wajahnya cantik tapi aku lebih senang jika memiliki wanita yang hatinya cantik. Kamu itu berbeda dari perempuan yang lain. Aku senang melihat sifatmu yang sederhana, nggak aneh-aneh. Kalau di dekat kamu, aku seakan-akan mendapat banyak nasihat. Ketika melihat caramu berpakaian, aku langsung tersadar arti sebuah kesederhanaan. Jujur, dulu aku sering beli baju hanya untuk mengikuti mode padahal baju yang lain masih layak pakai. Aku dulu juga sering gonta-ganti HP hanya karena nggak mau ketinggalan jaman. Sedangkan kamu, sampai sekarang tetap memakai HP yang dulu kan. Kamu juga gadis yang baik. Masih ingatkan kejadian ketika kita bertemu di depan Benteng Vredeburg. Dan sebenarnya masih ada banyak lagi tingkah laku yang aku suka darimu. Ketika kebanyakan orang hanya sekadar memberikan nasihat ini itu lewat lisan, tapi kamu tidak hanya sekadar di lisan saja, kamu lebih banyak memberikan contoh secara langsung. Itulah mengapa aku memilih untuk melamar kamu.”
“Ah Mas Faris lebay, aku nggak sampe segitunya kali Mas,” Tiara menjawab. Tampak pipinya memerah karena merasa malu mendengar penjelasanku.
“Kalo aku memang orangnya nggak suka banyak ngomong Mas. Daripada cuma nasihat ini itu, aku lebih seneng ngasih contoh langsung, kalo ada orang yang merasa kenek’an terus mau merubah sifat atau kelakuannya ya Alhamdulillah. Tapi pas waktu itu sebenarnya aku nggak bermaksud ngenek’i Mas Faris loh,” kata Tiara.
“Ah nggak masalah, justru aku jadi sadar kok. Jazakillahu khoiro ya.”
“Amiiin. Emm…soal itu aku kemarin udah minta pertimbangan ibu sama bapak, aku juga udah istikhoroh Mas,” Tiara mengambil jeda.
“Aku…”
Inilah yang aku tunggu-tunggu. Jantungku berdegub lebih kencang. Seakan-akan waktu berjalan sangat lambat. Sekelilingku terasa hening, sepertinya semua orang diam tak bergerak sama sekali, hanya  embun di gelas dinginku yang mengalir perlahan, sangat pelan.
“Aku mau jadi istrinya Mas Faris.”
Mendengar perkataan Tiara, seakan-akan keadaan kembali normal. Perasaanku saat itu…ah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan yang lebih dari sekadar bahagia. Alhamdulillah, akhirnya penantianku selama ini berbuah manis. Di setiap sujudku aku selalu meminta kepada Alloh, aku pasrah kepada Alloh. Aku yakin Alloh pasti akan menjawab doa hamba-hamba Nya. Lebih dari dua tahun aku bersabar, memendam semua kekagumanku terhadapnya. Dan saat ini Alloh benar-benar menjawab doaku. Akhirnya aku bisa menikah dengan orang yang sangat aku cintai.
***
Aku dan istriku tertawa mengingat masa-masa itu. Saat dimana kami pertama kali dipertemukan….oleh Alloh. Kami sekarang benar-benar sangat bahagia. Menjadi keluarga sederhana, harmonis, dan juga romantis.
“Wah jadi malu kalau ingat jaman kita kuliah dulu ya Yah,” kata istriku.
“Itu kenang-kenangan buat kita Bunda. Lumayan kan buat cerita ke anak cucu kita nantinya.”
“Ayah bisa aja, eh itu pisang goreng sama tehnya Yah, nanti keburu dingin loh.”
“Bunda kok nggak buat singkong keju aja, kan tema kali ini nostalgia,” godaku sambil tertawa.
Beruntung aku bisa memiliki istri seperti Tiara. Dia benar-benar perempuan yang bisa membahagiakanku, membuatku selalu rindu, membuatku betah untuk berlama-lama berada di sampingnya. Dialah jawaban atas semua doaku selama ini, istri yang sholihat dan juga barokah. Tiara Zaskia, dialah anugrah terindah yang Alloh kirimkan untukku, hanya untukku.
S.E.L.E.S.A.I
NB:
Ditujukan untuk kamu, dia, kalian yang sedang merasakan nikmat cinta
Bahagia tidak hanya ketika kita bisa bertemu dengan orang yang kita cintai
Bahagia tidak hanya ketika kita mendapatkan senyum dan salam darinya
Bahagia tidak hanya ketika dia mencintaimu
Bahagia adalah ketika kita bisa mensyukuri dan menikmati apa yang kita miliki saat ini.

Categories: , ,

Poskan Komentar

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-q =))